Ketika Bercermin Pada Agama

Belum lama, Dirjen Bimas Katolik, Bapak Semara Duran Antonius bertanya kepada saya, “apa objek pelayanan Bimas Katolik?” Seketika saya kaget. Karena pertanyaan ini seperti petir di siang bolong. Mengapa saya katakan seperti petir di siang bolong, karena pelayanan Ditjen Bimas Katolik sudah ada semenjak tahun 1946, harusnya pertanyaan itu tidak muncul. Tetapi karena dinamika perkembangan iptek dan seni, maka bisa jadi apa yang dahulu dianggap jelas, kini mulai dipertanyakan kembali; semacam jalan untuk mempertegas apa yang dikerjakan sekarang tidak asal saja (bdk.Derrida dengan teori dekonstruksi).

Dalam Minggu ini (antara tgl. 24-30 Maret 2013), Umat Katolik di seluruh dunia memasuki sebuah masa yaitu masa Pekan Suci. Pekan Suci diawali dengan Minggu Palma. Ada hal yang menarik perhatian saya, yaitu ketika menghadiri Misa Minggu Palma di Jakarta. Pertama, dalam homilinya, Pastor Gregorius Basir Karimanto, OMI (57) antara lain mengemukakan bahwa di negara kita (tentu yang dimaksud, Indonesia, setiap tahun terjadi 1,5 juta aborsi…., kemudian di Jakarta banyak suami dan/atau isteri meninggalkan isteri dan/atau anak begitu saja-bukan saja orang miskin tetapi juga yang kaya dan katolik lagi. Point saya adalah fakta yang dikemukakan dalam homili itu menjadi sebuah `pemberitahuan` bahwa ada pekerjaan yang perlu kita perhatikan dengan serius. Kedua, homili itu disiapkan dalam bentuk teks.

Kembali ke pertanyaan Dirjen Bimas Katolik tadi. Maka, misalnya Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik, yang obyek pelayanannya adalah “masyarakat Katolik yang tersusun dalam satuan-satuan sosial” (dapat) berkepentingan untuk merespons itu. Ditjen Bimas Katolik dalam melaksanakan tugas dan fungsinya berdasarkan PMA No. 10/2010, disebutkan dua unit operasional yaitu Direktorat Urusan Agama Katolik, dan Direktorat Pendidikan Katolik. Tentu, informasi yang disampaikan “secara umum” saja melalui homili tadi, (dapat) menjadi input(berharga) bagi unit operasional Bimas Katolik untuk semakin meningkatkan mutu pelayanannya. Ketika Dirjen Bimas Katolik menegaskan misinya antara lain, “peningkatan kualitas pembinaan kehidupan beragama”, maka kasus aborsi, kasus anggota keluarga saling meninggalkan, menjadi area dalam mana Bimas Katolik bekerja. Memang dalam penanganan kerja sama itu menjadi penting (kerja sama dengan mitra kerja).

Saya berpendapat, informasi umum melalui homili dapat menjadi masukan berharga. Masukan ini menjadi alat untuk membangun sinergi dengan mitra kerja untuk memberdayakan anak bangsa, dan tentu untuk mewujudkan ketahanan iman masyarakat Katolik mengarungi arus (deras) perkembangan zaman. Dalam konteks ini kelihatannya motto APP 2013 “semakin beriman, semakin bersaudara, dan semakin berbela rasa” relevan.

Hal menarik keduanya adalah `homili disiapkan dalam bentuk teks`. Orang boleh berbeda pendapat mengenai pentingnya teks. Kehadiran teks tidak sertamerta berhubungan dengan `hebat, pintar` dan apa lagi kata sejenis. Seolah-olah kalau pakai teks, orangnya tidak `pede`. Yang pokok bagi saya, dengan adanya teks: apa yang mau disampaikan tetap terjaga dan terarah; tidak akan mudah tergoda untuk jatuh dalam spontanitas. Hal ini mungkin baik menjadi sebuah support bagi saudara-saudara yang biasa mengisi acara mimbar Agama. Teks itu tetap diperhatikan kehadirannya. Nilai yang perlu diusung adalah “persiapan yang matang akan membuat pendengar dapat menyimak dan mengurai dalam batin dan pikirannya serta merancang pilihan tindakan yang akan dilakukannya”. Agama menjadi blue print bagaimana hidup dijalani (fungsi profetis, redemtif, dan edukatif).

Berikut ini, saya tampilkan secara utuh teks homili dimaksud. Mari kita belajar mengidentifikasi isi teks ini, jangan-jangan ada hal yang perlu menjadi masukan untuk penyusunan rencana kerja yang dalam beberapa waktu ke depan akan kita susun. Trims, salam, Stefan A. Sarumaha

AWALNYA MENYANJUNG, AKHIRNYA MENGANIAYA

MINGGU PALMA/C/2013

Bacaan: Luk. 19:28-40; Yes. 50:4-7; Flp. 2;6-11; Luk. 22:14-23:5

0. Pengantar

Saudara-saudara, saya akan mengawali homili saya dengan cerita berikut ini. Ada sebuah cerita tentang seorang Cina Mandarin yang menyelenggarakan pesta besar. Tuan rumah mengundang banyak orang terkenal ke pesta itu. Sayangnya sebelum pesta dimulai turun hujan lebat. Akibatnya halaman tempat pesta tergenang air dan becek. Kendati demikian, banyak tamu hadir juga dalam pesta itu. Ketika pesta hendak dimulai, muncul seorang tamu agung yang datang mengendarai kereta kuda. Malang baginya, ketika ia turun dari kereta ia tergelincir dan jatuh. Mukanya berlumpur dan pakaiannya kotor. Beberapa tamu tertawa melihat keadaan itu. Penerima tamu segera memberitahukan hal itu kepada yang empunya pesta. Tuan rumah datang menjumpai tamu itu dan mengajaknya untuk masuk ke ruang pesta. Tetapi dia menolak karena dirinya kotor penuh lumpur. Tuan rumah merasa tidak enak dengan keadaan itu. Maka muncullah ide gila, ia pun menceburkan diri ke dalam air berlumpur itu dan berguling-guling sehingga pakaian dan mukanya penuh lumpur. Ia menjadi sama dengan tamunya itu. Kemudian ia menggandeng tamunya masuk ke tempat pesta. Orang-orang yang lain hanya bengong melihat tingkah laku tuan rumah.

Tuan rumah menceburkan diri ke dalam lumpur supaya ia bisa menjadi serupa dengan tamunya, dan dengan itu tamunya berani memasuki tempat pesta. Hal yang mirip dilakukan oleh Yesus. Yesus adalah Allah. Namun ia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai miliknya yang harus dipertahankannya, melainkan telah mengosongkan dirinya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama seperti manusia. Dan karena itu Allah meninggikan Dia dan menganugerahkanNya nama yang melebihi segala nama (bdk Fil. 2:6-8).

1.  Ajakan untuk retret agung.

Saudara-saudara, hari ini Gereja merayakan hari Minggu Palma, yang juga dikenal sebagai awal Pekan Sengsara atau Pekan Suci, untuk memperingati dan mengenang perjalanan Yesus yang terakhir menuju Kalvari. Hari ini dan hari Jumat kita diajak untuk mendengarkan dan merenungkan kisah sengsara atau i>passio Tuhan kita Yesus Kristus. Dua kali dalam setahun kita diajak untuk merenungkan kisah sengara Yesus yang ditulis secara utuh oleh penginjil. Kata passio berasal dari bahasa Latin yang artinya menderita. Liturgi Pekan Suci, yang sering juga disebut retret tahunan bagi umat Katolik, karena selama sepekan kita diajak untuk merenungkan dan membatinkan karya keselamatan Allah melalui Yesus Kristus, dimulai pada Minggu Prapaskah ke-enam. Minggu Palma mengingatkan umat akan perjalanan Yesus memasuki kota raja Yerusalem yang disambut meriah dan gegap gempita oleh penduduk kota itu dan penduduk sekitarnya. Ketika Yesus memasuki kota Yerusalem orang banyak menyambut Dia dengan berteriak sukacita dan menyerukan nama-Nya sebagai Raja Mesias. Mereka berteriak “Hosana putra Daud, diberkatilah Dia yang datang sebagai raja dalam nama Tuhan! Damai sejahtera di surga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi.” Seruan ini mirip dengan seruan yang diserukan oleh bala malaikat surga ketika para malaikat itu mewartakan kelahiran Yesus di Betlehem. Injil mengatakan bahwa Yesus menunggang seekor keledai memasuki kota Yerusalem, sebagaiamana dinubuatkan oleh nabi Zakharia. Zakharia menubuatkan demikian; “Bersorak-sorailah dengan nyaring hai putri Sion, bersorak-sorailah hai Yerusalem. Lihat Rajamu datang kepadamu, Ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.” (Za 9:9). Menunggang keledai adalah untuk menekankan kelemahlembutan yang menjadi ciri khas dari Kerajaan yang Ia wartakan. Pada zaman nabi Zakharia, para raja dan orang-orang ningrat mengadakan pawai perdamaian dengan menunggang keledai bukan kuda. Keledai adalah simbol perdamaian, dan orang-orang yang menunggang keledai berniat untuk mewartakan damai. Sedangkan kuda adalah simbol keperkasaan dan kekuatan, dan orang-orang yang menunggang kuda bermaksud untuk perang dan menaklukan. Itulah sebabnya kekuatan mesin sering diukur memakai satuan tenaga kuda.

2. Memfokuskan perhatian kepada Kristus tersalib.

Saudara-saudara, yang menjadi masalah utama selama sepekan ke depan adalah fokus dan konsentrasi. Selama sepekan ke depan kita diajak untuk memfokuskan perhatian kita kepada Kisah Sengsara Tuhan kita Yesus Kristus agar kita dapat menghargai karya keselamatan Allah dan percaya kepada-Nya.

Tetapi harus kita akui bahwa pada zaman sekarang ini yang namanya memfokuskan diri itu amat susah. Mengapa? Karena banyak distraksi; banyak hal lain yang menarik kita. Generasi sekarang ini, generasi digital, yakni generasi yang paling susah untuk memfokuskan perhatian pada satu hal saja. Mengapa? Karena zamannya mengajar kita untuk menaruh perhatian kepada banyak hal sekaligus. Kadang orang harus menghadapi 3 layar sekaligus, layar tivi atau monitor komputer, layar laptop, layar bebe, dan layar hape. Kadang orang menjawab 3 panggilan telpon sekaligus, karena hapenya banyak. Ini adalah tanda dan gejala betapa sukarnya bagi kita melihat, merenungkan, dan memfokuskan perhatian, menyimak dan kemudian mengintegrasikan apa yang kita lihat dan kita dengar itu ke dalam hidup kita.

Untuk membantu kita memfokuskan dan memusatkan perhatian, gereja mengajak kita mendengarkan kisah sengsara Tuhan Yesus 2 kali dalam seminggu, yakni hari ini dan hari Jumat Agung. Setiap tahun hal itu diulangi agarkita berada bersama Kristus. Setiap adegan dalam kisah sengsara dibuka satu per satu dan menarik kita untuk masuk ke dalam situasinya, meskipun kita sudah hafal seluruh kisahnya. Seakan-akan kita ada di sana, di tengah-tengah orang banyak yang sedang menghakimi Yesus, yang berteriak, dan berusaha untuk mendengar kata-kata pembelaannya. Kita diajak untuk menghidupkan kembali situasi Yesus ketika disalibkan agar kita dapat menangkap makna dari tindakan Yesus itu.

Kita tidak bisa mempercepat pembacaan kisah sengsara. Itulah sebabnya kisah sengsaranya dinyanyikan dengan nada tertentu, yakni nada meditatif. Komponis tenar seperti Johann Sebantian Bach, George Frederick Handel dan Franz Yoseph Hayden telah menyiapkan bagi kita melodi passio dan aransemen lagu-lagu prapaskah dan paskah yang indah, seperti lagu Lamentasi dan Alleluya. Kisah sengsara dibuka secara perlahan agar kita dapat merenungkan tahap demi tahap. Memang kadang kita ingin melewati adegan-adegan yang terlihat sadis dan brutal. Tetapi sekali lagi, kisah sengsara itu bukan hanya kisah tentang Yesus yang dianiaya dan disalibkan, tetapi adalah kisah kita semua. Ketika kita merenungkan luka-luka Yesus kita diajak untuk melihat luka-luka dunia sektar kita, orang-orang korban perkosaan, korban perang, korban penganiayaan, orang-orang yang kelaparan, anak-anak yang kurang gizi, dst. Ketika kita menyaksikan kekejaman yang dilakukan oleh para serdadu Romawi terhadap Yesus, kita diajak untuk melihat tindak kekejaman yang ada di sekitar kita. Ketika kita mendengar kata-kta kasar dari orang-orang Yahudi yang menyalibkan Yesus, kita diajak untuk mendengar kata-kata kasar yang ada di sekitar kita. Kita memang sangat menyayangi kehidupan, tetapi ada banyak orang yang memandang hidup itu sebagai sesuatuyang tidak berharga, sehingga mereka tidak bertindak kejam atau tidak sungguh-sungguh memperjuangkan kehidupan.Di negara kita ini setiap tahun terjadi 1,5 juta aborsi. Di seluruh dunia lebih hebat lagi, dan penyumbang paling besar adalah penduduk RRT, karena di sana diterapkan kebijakan 1 anak saja. Selama 1 minggu di Guangsi, jarang sekali saya melihat wanita hamil dan anak-anak.

Di dunia ini semakin banyak orang yang tidak menghargai kehidupan. Buktinya banyak bom diledakkan di tengah-tengah kerumunan banyak orang seperti yang terjadi di Irak, Pakistan, Suriah, India. Di Jakarta orang-orang yang tidak menghargai kehidupan semakin banyak, buktinya pembunuhan sadis sering terjadi dimana-mana. Selain itu, banyak juga keluarga yang kurang menghargai kehidupan, buktinya bila ada keluarga yang hilang, atau minggat dari rumah, dibiarkan saja. Di Jakarta ini banyak suami yang meninggalkan istrinya begitu saja. Ada juga istri yang meninggalkan suami dan anak-anaknya begitu saja. Orang yang melakukan hal semacam itu bukan hanya keluarga miskin, tetapi ada juga keluarga berada, Katolik lagi.

3.  Luka-luka Yesus yang menyembuhkan.

Meskipun demikian kita percaya bahwa dengan luka-lukaNya, Yesus bermaksud untuk menyembuhkan luka-luka dunia. Petrus menulis, “Ia sendiri telah memikul dosa-dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita yang telah mati terhadap dosa, hidupuntuk kebenaran. Oleh bilur-bilurNya kamu telah sembuh.” (1 Ptr 2:24). Kita membutuhkan optimisme untuk membuat kemajuan di dunia ini. Kita tidak pernah bekerja untuk memperbaiki sesuatu jika kita tidak percaya bahwa segala sesuatu itu mungkin. Bagi Allah tidak ada yang mustahil. Bagi orang yang percaya kepada Tuhan, juga tidak ada yang mustahil. Manusia mampu untuk mencintai dengan tulus, tetapi manusia juga mampu membenci dengan hebat. Manusia mampu untuk bermurah hati, tetapi juga mampu untuk menjadi manusia jahat sekali. Namun Yesus memanggil kita untuk menjadi manusia yang penuh belas kasih, manusia yang murah hati dan manusia yang lemah lembut. Melalui penderitaan-Nya Yesus memperlihatkan kepada kita betapa sangat dibutuhkannya belas kasih, kemurahan hati dan kelemahlembutan. Ia melakukan kebalikannya daripada yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi terhadapNya.

4.  Menghentikan kekerasan.

Ketika Pekan Suci mulai, saya membayangkan tubuh yang sedang sakit, karena berbagai racun dan toksin yang ikut mengalir di dalam tubuh bersama dengan darah. Satu-satunya cara untuk menjadikan tubuh itu sehat adalah mengeluarkan racun dari dalam tubuh. Di dunia kesehatan ada orang yang mengeluarkan racun dengan cara menyedot menggunakan mulutnya. Boleh dikatakan ia menyedot rcun itu ke dalam dirinya. Bila kita ibaratkan tubuh itu adalah dunia dan racun dan toksin adalah dosa-dosa umat manusia di dunia, maka Yesus adalah Orang yang menyembuhkan. Pada hari Jumat Agung, Yesus menarik semua racun dunia ke dalam diri-Nya. Semua kebencian, semua dendam, semua kemarahan, semua makian dilampiaskan kepada-Nya. Dan Dia menerima semuanya dengan tenang tanpa membalas. Ia bagaikan seekor domba yang dibawa ke dalam pembantaian. Yesus telah mengalahkan semuanya. Ia mempunyai inner peace, maka kekerasan tidak mengusik Dia untuk membalas dengan kekerasan. Hanya orang-orang yang mempunyai inner peace yang mampu melawan kekerasan dengan non-violence, seperti para rasul, para martir, Mahatma Gandhi dan Martin Luther King dari Amerika Serikat. Dan inner peace itu diberikan oleh Yesus kepada para murid-Nya, sehingga mereka tidak dapat diprovokasi oleh kekerasan dari luar. Ia bersabda : “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahteraKu Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu.” (Yoh. 14:27). Itulah sebabnya Yesus dalam kotbah-Nya di bukit berkata,”Berbahagialah jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.” (Mat. 5:11). Mengapa orang yang dicela, dianiaya dan difitnah karena Kristus dikatakan bahagia? Karena itu berarti orang mendapatkan ujian yang setimpal. Dia menguji apakah ia benar-benar telah memiliki damai yang diberikan oleh Yesus? Nah, kalau anda masih mudah diprovokasi oleh kekerasan dari luar dan anda menanggapi juga dengan kekerasan, selain anda terus menggulirkan kekerasan itu, anda juga belum memiliki damai yang dari Tuhan. Murid-murid Kristus diharapkan menjadi pembawa damai bukan pembawa kekacauan; murid-murid Kristus diharapkan menjadi penolong bukan penakluk.

Apa kabar baik dari kisah sengsara Tuhan kita Yesus Kristus? Kabar baik dari kisah sengsara Tuhan Yesus adalah, kita semua diajak untuk menghentikan kekerasan. Jangan menggulirkan lagi kekerasan, baik melalui kata-kata maupun melalui tindakan fisik. Maka sungguh berlawanan dengan kehendak Tuhan bila di dalam keluarga anda masih sering terjadi tindak kekerasan, suami menganiaya istri, orangtua menganiaya anak, dst. Saya merasa sedih ketika mendengar kabar bahwa di paroki kita ini ada beberapa pasangan suami istri Katolik yang terpaksa pisah rumah, tidak bisa tinggal serumah karena terjadi KDRT, Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Saudara-saudara, tidak dapat disangkal bahwa dalam kodrat manusia ada tersimpan kecenderungan untuk melakukan kekerasan. Allah menciptakan kita dengan kehendak bebas, dan kita bebas memilih hal yang baik dan yang bijak atau yang bodoh dan berdosa. Meskipun demikian, Allah tidak membiarkan kita berhenti di situ. Dengan mengenangkan kembali Kristus yang tersalib Ia memanggil kembali. Ia mengingatkan kita bahwa yang dihitung bukan dosa-dosa kita yang mengerikan, tetapi kebaikan Kristus, yang mengalahkan dosa di salib. Sering ada perkataan, “Allah menerima kita apa adanya, tetapi Ia begitu mengasihi kita untuk membiarkan kita seperti itu.” Ia ingin lebih! Dalam Kristus Ia memberi hidup baru. Kisah sengsara yang kita renungkan hari ini dan hari Jumat nanti bukan hanya kisah Yesus, tetapi juga kisah kita semua. Karena kisah kita juga bagian dari kisah Kristus. Nah, selamat  memasuki retret agung tahunan kita. Tuhan memberkati. Amin.

Rapat Buletin Ditjen Bimas Katolik

Hari ini, Rabu, 27 Maret 2013, bertempat di Ruang Rapat Ditjen Bimas Katolik, lantai 12, Jl. MH. Thamrin No. 6, Tim Buletin melakukan rapat terkait penerbitan Buletin edisi XXX, Januari-April 2013. Rapat tersebut dipimpin langsung oleh Penanggung Jawab Buletin Ditjen Bimas Katolik, Aloma Sarumaha. Dihadiri oleh Antonius Heru Supriyanto (Redaktur), Seven Simbolon (Penyunting/Editor), Joice Djeer dan Ubaldus Fensin (Desain Grafis dan Fotografer), Maria Masang (Sekretaris), Yohanes Sutarto, Sri Wahyuni, Joko Kurnianto, dan Pormadi Simbolon (Pembuat Artikel), rapat tersebut membahas kinerja Tim Buletin dan Pembuatan Artikel terkait akan diterbitkannya Buletin Ditjen Bimas Katolik Edisi XXX pada bulan April mendatang.

Pada rapat kali ini, banyak masukan-masukan yang berarti, baik itu terkait layout juga terkait kualitas materi yang akan dimuat. Sri Wahyuni, dalam usulnya, mengemukakan tentang keinginan Direktur Pendidikan untuk memuat artikel tentang penjelasan sertifikasi guru Pendidikan Agama Katolik. Usul tersebut diapresiasi dengan baik, namun dalam edisi kali ini, Tim Buletin sudah siap dengan penjelasan sertifikasi, DMS, dan NRG. Hari Senin, 2 April 2013, materi-materi tersebut akan disebar untuk dikoreksi  bersama untuk meminimalisir kesalahan. (Joice)

Maju, pasti menang: Soal blokir Anggaran RKA-K/L 2013

63376_1507462698038_3922709_noleh A. Sarumaha, Kabag Perencanaan dan Sistem Informasi, Setditjen Bimas Katolik, Ditjen Bimas Katolik, Kemenag

Jumat, 15 Maret 2013, bertempat di ruang rapat Rocan Lantai 1, Jl. Lapangan Banteng 3-4 Jakarta, Kepala Biro Perencanaan Setjen Kementerian Agama, Bapak Drs. H. Syamsudin, MM mengadakan rapat koordinasi dengan seluruh unit Eselon I Kementerian Agama RI, dihadiri oleh para Kepala Bagian Perencanaan dan Sistem Informasi  (atau istilah lain: Bagian I). Rapat dimulai jam 14.28 dan selesai jam 16.15. Tampak dalam gambar Bapak Bambang sedang menyampaikan sepatah kata sebagai pengantar/pembuka pertemuan. Tiga isu yang dibicarakan, yaitu 1) soal pembukaan blokir; 2) soal penyelesaian pagu minus 2012; dan 3) soal revisi RKA-K/L 2013. Tidak seperti sebelumnya kalau memimpin pertemuan, hari ini Karocan memimpin rapat dengan wajah cerah, tampak muda, sesekali canda untuk membuat suasana cair.

Terkait dengan pembukaan blokir, Karocan menegaskan bahwa Kementerian Agama RI sudah mendapatkan persetujuan DPR RI atas pembukaan blokir anggaran tahun 2013, sesuai dengan Surat Nomor PW/02901/DPR RI/3/2013 tgl 13Maret 2013. Dengan demikian, tiap unit eselon I Kemenag sudah dapat melakukan langkah-langkah strategis untuk percepatan target kinerja. Diakui bahwa persetujuan DPR RI itu masih menyisakan beberapa catatan yang memerlukan pendalaman (kembali) dengan DPR RI (aliasmasih dibintang) Dalam konteks pembukaan blokir, Karocan menegaskan bahwa pada tanggal 18-27 Maret 2013 akan melakukan koordinasi dengan semua unit kerja di Kementerian Agama, tempatnya di Wisma Haji Pondok Gede; yang hadir dalam rapat koordinasi ini adalah semua Subbag Perencanaan di Kanwil Kemenag (pembiayaan dari Setjen), Perguruan Tinggi Negeri di Lingkungan Kemenag (pembiayaan masing-masing unit kerja), dan Bagian I masing-masing Eselon I (biaya tanggung unit kerja). Target kerja selama kurang lebih 10 hari adalah melakukan harmonisasi pagu anggaran: Kegiatan dan dokumen kelengkapan yang disyaratkan (sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Menteri Keuangan).

Terkait dengan penyelesaian pagu minus 2012, Karocan menegaskan bahwa untuk penyelesaian Laporan Keuangan Kementerian Agama, maka pagu minus harus segera diselesaikan. Ini ranahnya Biro Keuangan, dan dibantu oleh Biro Perencanaan bersama Bagian I Unit Eselon I. Biro Keuangan diminta mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk percepatan penyelesaian pagu minus.

Terkait dengan revisi RKA-K/L 2013, dengan turunnya persetujuan DPR RI, Karocan menegaskan bahwa “kita tidak serta merta pekerjaan berakhir, tetapi justru kita semakin dituntut untuk cepat melakukan tindakan”. Pekerjaan berikut adalah melakukan “pembukaan blokir ke DJA” oleh masing-masing Program. Bagaimana dinamikanya, akan banyak ditentukan oleh hasil pertemuan di Pondok Gede (18-27 Maret 2013). Ketika melakukan `pembahasan ulang` kepada DJA, Unit Eselon I diminta menyiapkan semua dokumen yang disyaratkan. Pada saat pembahasan ulang, sekalian akan dilihat apakah selesaikan pembukaan blokir dengan menyerahkan data atau dokumen yang disyaratkan; dan sekalian revisi, atau ditempuh dua langkah, yaitu pertama: selesaikan dahulu urusan buka blokir; kemudian, kedua: urus revisi sesuai dengan PMK 32/2013.

Hal yang mengharukan adalah soal “pemenuhan kekurangan gaji dan tunjangan tahun 2013″. Karocan mengemukakan bahwa kekurangan gaji dan tunjangan yang dialami oleh beberapa unit kerja ditutup dengan cara melakukan relokasi anggaran pada Program yang bersangkutan sesuai dengan Kegiatan. Ini artinya, kalau di Program Ditjen Bimas Katolik terdapat kekurangan sebesar Rp175M, maka itu dipenuhi dengan melakukan peninjauan kembali alokasi anggaran di Program tersebut Pusat-Daerah. Kalau gaji guru dan tunjangan profesi guru, maka kekurangannya diambil di Kegiatan Pengelolaan dan Pembinaan Pendidikan Katolik. Kalau honor penyuluh non PNS, maka kekurangannya diambil di Kegiatan Pengelolaan dan Pembinaan Urusan Agama Katolik. Ada yang berpendapat, “soal pemenuhan kekurangan (misalnya Rp175M) itu dibiarkan dahulu, menunggu APBN-P 2013″. Pertanyaan yang segera muncul adalah pengalaman selama ini nilai APBN-P itu sangat terbatas. Siapa yang mau ambil resiko itu? Tidak ada jaminan, bahwa hal itu dapat teratasi dengan baik. Jadi dapat dikatakan, kita tidak memotong anggaran, tetapi memindahkan alokasi anggaran dalam Kegiatan (K huruf besar) yang bersangkutan.

Kalau di Pendidikan kekurangan tunjangan profesi GPAK sebanyak 100M, maka anggaran Pendidikan Pusat dan Daerah digeser untuk menutupinya. Bisa jadi ada sejumlah item kegiatan (k huruf kecil) yang hilang (dan dapat diagendakan di tahun 2014). Oleh sebab itu, kita perlu meyakinkan diri kembali: apakah data Rp175M dari daerah itu betul-betul valid? Bagaimana cara untuk mendapatkan keyakinan itu, apa alat yang digunakan? Perlu ditegaskan bahwa untuk soal tunjangan sertifikasi: ranah Perencanaan sampai pada titik: ada sertifikat dan ada NRG. Ini namanya posisi “menyiapkan” [merencanakan]. Sedangkan ranah Keuangan adalah: Sertifikat, NRG, dan SK 24jam/Minggu. Verifikasi 24j/m ini tidak mudah. Apakah 24j/m ini juga mengisyaratkan seperangkat dokumen tertentu, yang [harus] diketahui atau diserahkan kepada Pejabat Bimas Katolik? Jangan sampaiyang terjadi adalah “yang penting ada SK yang menyatakan bahwa mencapai 24jam/m”. Kita perlu masukan dari Kabid/Pembimas soal ini. Sejauhmana selama ini Kabid/Pembimas Katolik terlibat dalam proses penentuan atau penerbitan SK 24 jam/m; ataukan terima jadi. Toh sudah saling percaya.
Untuk KPA hal ini penting, jadi tidak sekadar bahwa Bagian Perencanaan bela diri dan Bagian Keuangan bela diri. Sebab, ada yang mengatakan bahwa “yang penting Perencanaan siapkan saja”, soal terserap atau tidak  “itu soal keuangan”.

Refleksi. Secara formal persetujuan DPR RI sudah ada. Tetapi mengingat tiap unit kerja Eselon I mengurus Pusat dan Daerah, maka dampaknya ke waktu yang diperlukan untuk melakukan koordinasi dan harmonisasi. Maka dugaan sementara bulan Maret 2013 ini akan digunakan sepenuhnya untuk melakukan proses buka blokir dan revisi di DJA. Kalau urusan blokir tidak cepat dilakukan ke DJA, maka urusan di DJPB, khususnya KPPN tidak akan lancar. Begitu juga dengan revisi, jika hasil revisi tidak selesai dengan DJA, maka urusan di DJPB, khususnya KPPN juga akan terganggu. Itu mungkin efek luas bekerja dengan banyak pihak.

Koordinasi dengan daerah juga tidak selalu mudah (semudah yang dibayangkan). Ada daerah-daerah yang baik tingkat Provinsi, lebih-lebih tingkat Kabupaten/Kota jaringan tidak bagus; bahkan ada “yang harus naik dan turun pohon” hanya untuk menerima telepon dan bicara. Bagaimana bagusnya menyelesaikan persoalan masyarakat di atas pohon? Apa yang bisa dibawaserta di atas pohon untuk mencatat [sejauhmana kekuatan memori manusia mengingat sesuatu]. Syukur-syukur di atas pohon tidak ada ular atau semut panas [yang masuk di ruang khusus dan melakukan aktivitas sosialnya]. Itu antara lain kondisi demografi dan geografi kita yang berdampak serius bagi pelaksanaan pelayanan kita.

Itulah sebagian kecil pengalaman kita di Pusat ketika melakukan koordinasi dengan mitra kerja di Daerah. Tetapi kita juga perlu membuka diri dan mau menerima, jika teman atau mitra kerja kita di Daerah mengeluhkan bahwa “orang Pusat sulit dihubungi”. Ini ada benarnya, karena misalnya Jakarta, Ibu Kota, di Kantor Kemenag Jalan Thamrin, daerah protokol, bergengsi, jaringan sering entah ke mana …… Kita sering guman dalam hati “apakah Saudara yang di seberang sana sedang mengeluhkan kesulitannya kepada kita di Pusat?”, tetapi karena suaranya tidak jelas, maka kita bisa saja meresponsnya dengan,”iya….iya….iya…. Pak/Ibu”. Kalau begitu kejadiannya, maka bukan tidak mungkin di “seberang sana, yang sedang bicara menerimanya sebagai `apa yang diungkapkannya diterima semua oleh Pusat`. Tidak merasa bahwa dalam komunikasi itu `telah terjadi kesalahpahaman karena kurang saling jelas apa yang dikatakan`. Makanya begitu ketemu, `mulai menagih apa yang sudah dibicarakan (di atas pohon, misalnya) dan sudah di-iya-kan oleh penerima telepon di Pusat`. Kalau begini, kan kita masuk dalam perangkap “saling menolak kenyataan”.

Oleh sebab itu, kalau boleh mengusulkan, misalnya kalau ada Rapat Kerja Nasional atau Regional, hal-hal yang krusial diduga akan muncul dikelola sebaik mungkin. Pertama, siapa yang diundangharus datang, tidak mewakilkan. Untuk ini diperlukan rancangan pertemuan yang waktunya cukup. Kita berusaha sekuatnya untuk menghindari dadakan. Salam satu cara yang ditempuh untuk menghindari dadakan adalah mengirim berita melalui website. Mungkin baik kalau kita (tentu di daerah yang sudah lancar) familiar dengan “masuk kantor langsung buka website untuk mengetahui kabar baru dari mana saja”.  Seringkali sifat pertemuan kita adalah “pengambilan putusan”. Kalau yang datang adalah “mewakili”, maka ada kesulitan teknis dan substansi yang menunggu di depan. Asumsinya adalah orang yang diharapkan datang saja, bisa interpretasi lain hasil yang dicapai. Apalagi orang kedua, umumya akan mengatakan “nanti akan saya laporkan ke atasan saya”. Kedua, bahan yang diminta harus ada dan lengkap (baik hard copy maupun soft copy). Data itu tidak saja berfungsi untuk mempertegas kesaling-percayaan dalam bekerja [apalagi di medan berat], tetapi jauh dari itu, ia menjadi alat bukti yang kuat untuk penetapan alokasi anggaran.

Berangkat dari pengalaman selama ini, kekurangan yang terjadi pada Program Bimbingan Masyarakat Katolik 2013 sumbernya kompleks. Dugaan sementara, sebelum pemberlakuan pengelolaan program dan anggaran di Eselon I, kasus kekurangan itu sudah ada. Tetapi karena selama ini alokasi anggaran dikelola oleh Sekretariat Jenderal (Provinsi dan Kab/Kota) hal itu `seperti otomatis dapat ditangani`. Dan kejadian itu (kalau ada) sejauh ini belum ada laporan kepada Dirjen bahwa anggaran Bimas Katolik di Daerah X misalnya kurang atau tidak ada. Yang ada adalah “anggaran kami kurang”. Misalnya, sharing mitra kerja, “kita adalah jumlah terbanyak di daerah ini, tetapi anggaran kita jauh di bawah Satker itu”. Tidak selalu mudah untuk merespons sharing itu.

Khusus pada tahun 2013, pengalaman bersejarah ketika kita melakukan verifikasi data (saat Konsultasi di Batam tahun 2012), ada pejabat yang akhirnya sangsi sendiri dengan data yang dibawa. Kalau orang pertama dari Daerah saja sudah sangsi, bagaimana orang kedua (di Pusat) dapat mempertahankan kualitas yang diragukan itu? Tentu, kalau data tidak kuat (valid), maka Bagian Perencanaan dan Sistem Informasi tidak mau ambil resiko, tidak akan memproses. Belum lagi kalau data itu hanya “berupa angka” tanpa kelengkapan, ini membuat sport jantung untuk mempertanggungjawabkan. Misalnya, Daerah menyatakan “saya mempunyai 200-an guru pendidikan agama”. Dengan “200-an ….” sudah membuat kita kesulitan ketika memindahkannya ke ruang alokasi anggaran, karena tidak jelas. Memang kita tidak bisa akhirnya masuk pada wilayah “ini salah” dan “itu salah”. Persoalan di depan mata adalah “tenaga SDM” selain belum memadai, juga (dan ini yang mungkin parah) tidak ada. Ada pejabat, misalnya Pembimas Katolik bertindak dalam beberapa peran: pagi hari masuk kantor sebagai “clean service”, tidak lama kemudian, mengonsep dan mengetik surat; kemudian meminta paraf, tanda tangan, cap, lalu mengirim ke pos. Di tengah perjalanan harus belok menghadiri pertemuan dengan mitra kerja; belum selesai pembicaraan harus tinggalkan karena harus menghadap atasannya di kantor. Lalu pertanyaan jenaka, kapan program yang ada anggarannya dapat dikerjakan? Ada yang mensinyalir, berkat kemajuan teknologi, sebaiknya rasionalisasi pegawai. Kalau dulu satu pekerjaan dikerjakan oleh tiga orang, sekarang di era teknologi canggih bisa dikerjakan oleh satu orang saja. Betul juga pikiran itu. Tetapi, mungkin yang perlu cermati adalah: hal itu cocok untuk apa? Kalau ingat masa-masa sebelumnya, dan bisa jadi masih ada sekarang; ada teman yang ke mana-mana bawa laptop, tetapi karena untuk menjaga umur penggunaan barang elektonik (tahan lama), mada skema kerjanya adalah untuk sekian waktu digunakan untuk buka dan tutup, sekali-sekali diselingi dengan “on-off”.

Kalau meminjam istilah mas Tukul dalam Bukan Empat Mata, “kembali ke leptop”, maka mari kita kembali sikapi pekerjaan ke depan. Peristiwa 2013, khususnya kekurangan gaji dan tunjangan: jangan terulang. Bagaimana caranya? Pihak terkait (Kabid/Pembimas, Kasi/Gara) pastikan data dalam bentuk angka dan riil orang yang disebutkan ada dan benar ada. Kepastian data ini sudah ada dan dibawa sejak awal pembahasan, tidak dibawa pada akhir pembahasan (apalagi jika pertemuan sudah selesai, susulan). Tentu, data itu sumbernya dari pertanyaan, “apa subyek pelayananProgram Bimbingan Masyarakat Katolik?” Subyek layanan ini tentu ditemukan di PMA 10/2010 Pusat dan PMA 13/2012 untuk Daerah. Urai atau jabarkan tugas dan fungsi masing-masing. Hasil pencarian ini akan membantu kita untuk mengetahui apa yang dikerjakan Pusat linier dengan Daerah. Linieritas ini akan membantu kita juga dalam mencoba melakukan pemetaan tanggung jawab. Misalnya, kelak kita akan mampu petakan, mana yang sebaiknya menjadi area Pusat dan mana Daerah. Kalau merunut arahan Dirjen Bimas Katolik (Bapak Semara Duran Antonius), kegiatan yang bersifat strategis dikelola oleh Pusat; atau petakan mana kegiatan skala nasional, regional dan mana lokal. Kapan pembinaan Guru Pendidikan Agama Katolik disebut sebagai strategis dan skala nasional? Bisa jadi ini terkait dengan isu yang dibahas. Bila isu peningkatan kualitas kompetensi, maka Daerah tentu dapat menerima kalau itu diurus Pusat. Namun demikian, setelah dilakukan kaderisasi, maka bukan tidak mungkin Daerah secara bertahap dipercaya untuk melaksanakannya.

Pemetaan layanan ini menurut pendapat saya, akan segera menjadi input (penyusunan bahan) RENSTRA Ditjen Bimas Katolik Tahun 2015-2019. Ini mungkin salah satu point yang perlu dibahas dalam Konsultasi Pejabat Bimas Katolik Pusat-Daerah 2013, yang melibatkan Kabid/Pembimas dan Kasi/Gara seluruh Indonesia. Pertemuan ini besar, oleh karena itu, diharapkan agar setiap peserta mempersiapkan bahan-bahan yang diduga akan diperlukan, sambil memperhatikan informasi yang dimuat di website Bimas Katolik.
Jika data kita sudah ada dan valid atau dapat dipercaya keandalannya, maka akan mudah menerapkan satuan biaya yang disiapkan. Terkait dengan penerapan standar biaya. Pada rapat koordinasi Bagian 1 dengan Karocan, juga dikemukakan agar harga satuan (biaya) yang digunakan tidak variasi. Pertama, untuk honor penyuluh agama non PNS tarifnya Rp300ribu/bulan: ini harus sama seluruh Indonesia. Pertemuan Pondok Gede 18-27 Maret 2013 akan mengingatkan Subbag Perencanaan Kanwil. Kedua, satuan biaya akomodasi seperti honor narasumber, makan minum, tidak harus sama untuk seluruh Indonesia karena karakter provinsi tidak sama. Tetapi dalam satu provinsi harus sama. Nilai akomodasi kegiatan pada Program Bimas Katolik harus sama dengan di Program Bimas Kristen atau Bimas Islam.

Untuk semua lini, tugas kita berat. Harapan kami, kita semua melaksanakan nya dengan baik, tanpa harus berdampak buruk pada kesehatan. Ingat isteri, suami, anak-anak dan cucu-cucu sebagai hadiah dari Tuhan. Mereka adalah bagian dari cara dan alat Tuhan untuk menghindari kita dari kemungkinan buruk dalam hidup ini. Melalui telpon atau sms, foto yang disimpan dalam handphone, atau surat yang diselipkan dalam buku kerja: Tuhan mengingatkan kita bahwa kita bekerja juga untuk membahagiakan mereka. Ketika kita berangkat melaksanakan tugas, saat itu juga dalam hati isteri, suami, anak, dan cucu bertanya: kapan papa, mama, opa, oma kembali dan ……. lagi ….?   Sebelum berangkat melaksanakan kerja check kesehatan sesuai dengan alat yang sesuai atau sudah biasa, dan kembali melaksanakan pekerjaan juga check kesehatan lagi dengan alat yang sama (reliabel). Karena itu alat-alat check kesehatan juga perlu dirawat dengan baik dan benar. Demikian kabar dari Bagian Perencanaan dan Sistem Informasi, Setditjen Bimas Katolik, Ditjen Bimas Katolik Kementerian Agama RI. Selamat bertugas untuk Bapak/Ibu/Saudara-saudari.

Ctt. Semula direncanakan di Pondok Gede, dipindah ke Ciputat, Balai Diklat Kemenag. Trims.

Rapat Dengar Pendapat Dirjen Bimas Katolik dengan Komisi VIII DPR RI

Kamis, 7 Maret 2013

Dirjen Bimas Katolik, Semara Duran Antonius tengah mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VIII DPR RI, tentang Evaluasi Kinerja dan Realisasi Anggaran serta Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan tahun 2012.

Sidang yang diketuai oleh Wakil Ketua Komisi VIII dari Fraksi Golkar, Said Fuad Zakaria, dimulai pada pukul 12:30 di Ruang Rapat Komisi VIII DPR RI, tanggal 7 Februari 2013.

Dirjen yang didampingi Sekretaris Ditjen Bimas Katolik, Direktur Urusan Agama Katolik, Direktur Pendidikan Katolik, dan seluruh Pejabat Eselon III, akan menyampaikan pemaparan tentang realisasi kinerja Kementerian Agama di unit Eselon I, Laporan Pelaksanaan Kegiatan berikut permasalahan yang dihadapi, serta Laporan Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan BPK RI. Sampai berita ini diturunkan, Rapat Dengar Pendapat masih berlangsung dengan mendengar pemaparan dari Dirjen Bimas Kristen.

(Merry, Joice, Seven)

Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Pejabat Eselon IV

toniDirjen Bimas Katolik, Semara Duran Antonius, melantik pejabat baru untuk jabatan Kepala Seksi Pembinaan Umat pada Subdit Pemberdayaan Umat. Pejabat yang dilantik adalah Toni H. F. Pardosi, S. Ag menggantikan Antonius Sundoro yang telah memasuki masa purna bhakti. Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Pejabat Eselon IV dilaksanakan di ruang Dirjen Bimas Katolik, tanggal 1 Maret, dan dihadiri Sekretaris Ditjen Bimas Katolik, Direktur Urusan Agama Katolik, Direktur Pendidikan Katolik, Pejabat Eselon III dan IV, serta rohaniwan pendamping.

Pada kesempatan ini, Bapak Dirjen berpesan kepada pejabat baru untuk memberikan kontribusi terbaik guna membantu Kasubdit Pemberdayaan Umat dan Direktur Urusan Agama Katolik sehingga lahirlah indikator yang dituntut dalam proses Reformasi Birokrasi. Banyak pekerjaan yang sudah menanti. Mendata jumlah kelompok kategorial yang ada, lengkap dengan struktur formalnya, dan seberapa banyak yang dapat diupayakan pembinaannya berada dalam lingkup kerja Ditjen Bimas Katolik berupa pilot project pembinaan kelompok kategorial. Bapak Dirjen juga berpesan kepada pejabat yang baru dilantik untuk bekerja lebih baik, lebih cermat, dan memiliki kemampuan mencari peluang-peluang baru untuk memecahkan permasalahan yang ada di seksi tersebut. Sudah bukan saatnya lagi bagi pejabat baru untuk menunggu perintah, tetapi langsung action karena anda sekarang sudah “Kepala”, yang sudah punya wewenang untuk memikirkan dan memberikan tugas kepada staf anda, demikian arahan Bapak Dirjen kepada pejabat baru.

Sedangkan kepada Bapak Antonius Sundoro, Bapak Dirjen mengucapkan banyak terima kasih atas darma bakti dan pengabdian selama 35 tahun. Pensiun bukan berarti berhenti untuk mengabdikan diri kepada masyarakat karena masih dapat berkarya di lingkungan terdekat, baik komunitas Katolik maupun lingkungan sekitar tempat tinggal. (Subbag Sistem Informasi)

Tim Buletin bertemu Uskup Agung Jakarta


uskup
Bertemu dengan Mgr. Ignatius Suharyo, kemarin, Senin, 25 Februari 2013 untuk mewawancarai beliau secara eksklusif dalam kapasitasnya sebagai Ketua Presidium Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), membuat kami bertiga dari tim Buletin Ditjen Bimas Katolik (Mery, Seven dan Joice) merasa sangat gembira. Kesempatan ini sangat berarti, mengingat tugas dan kesibukan beliau yang sangat padat. Kami bersyukur mendapat kesempatan ini.

Kurang lebih satu jam berada di ruang tamu Keuskupan Agung Jakarta, kami diterima hangat oleh Bapak Monsinyur. Obrolan hangat seputar tema besar APP “Menghargai Kerja” menjadi topik yang begitu menarik kami diskusikan bersama beliau.

Ada tiga hal penting menyangkut penghargaan terhadap kerja yang beliau sampaikan. Manusia Katolik bekerja untuk memenuhi kebutuhan fisik, aktualisasi diri dan terutama sebagai perwujudan iman. Jika kerja dimaknai sebagai bentuk perwujudan iman, maka Kerajaan Allah yang kita harapkan sungguh nyata.

Beliau juga berbicara tentang makna puasa dan pantang bagi umat Katolik. Tidak ada orang yang terlalu miskin untuk memberi. Beliau mencontohkan puasa makan, berarti, uang yang seharusnya dibelikan makanan, bisa dimasukkan ke kotak APP untuk membantu saudara-saudara yang membutuhkan. Uang itu tidak ditabung untuk bisa makan enak di bulan berikutnya, tetapi untuk menyumbang, begitu Bapak Monsinyur memberikan contoh.

Mau tahu, bagaimana selengkapnya hasil wawancara kami dengan Mgr. Ignatius Suharyo? Nantikan Buletin Ditjen Bimas Katolik edisi XXX, terbitan Januari-April 2013, yang rencananya akan terbit bulan April mendatang.

Mewawancarai Christina Maria Rantetana

christinaChristina Maria Rantetana. Siapa yang tidak mengenal beliau? Laksma wanita pertama di Indonesia. Karirnya di Angkatan Laut sungguh mengagumkan. Lahir di Makale, Tana Toraja, 24 Juli 1955, ibu dari lima putera dan puteri ini adalah sosok wanita yang tegas, disiplin dan ramah. Meskipun dia telah ber-bintang satu, namun dia tetap menjadi sosok yang rendah hati dan selalu mengandalkan Tuhan dalam tugas dan karyanya setiap hari.

Itulah sedikit alasan, mengapa Buletin Ditjen Bimas Katolik memilih beliau untuk menjadi Profil dalam edisi XXX terbitannya kali ini.

Sedikit cerita bagaimana kami bertiga (Mery, Seven dan Joice) mewawancarai beliau. Diawali dengan salah masuk “pagar” orang hehehehe….. Dengan penuh percaya diri mobil kami masuk ke parkiran Kementerian Pertahanan. “Mau ketemu siapa, Pak?”, kata petugas. “Kami ingin bertemu Ibu Christina Maria Rantetana”, kata Bang Seven dengan penuh percaya diri hehehehe…. “Ok. Silakan tinggalkan tanda pengenal.” Dengan sigap kartu identitas dikeluarkan. “Gedung B arahnya kemana, Pak?”, lanjut Bang Seven. “Disini tidak ada gedung A atau B. Siapa yang dicari?”. Ohhhhh… rupanya kami bertiga salah masuk. Seharusnya ke Kemenkopolhukam. Astaga!!!

Lalu, kami akhirnya menuju ke tempat dimana seharusnya Ibu Christina berada. Dengan gaya wartawan, membawa tape recorder dan kamera, kami sudah seperti wartawan beneran. Sambutan yang sama kami rasakan ketika -salah- masuk ke Kementerian Pertahanan, begitupun di Kemenkopolhukam, penjagaan begitu ketat. Begitu menyebut nama Christina Maria Rantetana, mereka langsung mengarahkan kami ke Gedung B, lantai 3. “Wow… Bu Christina sangat disegani disini”, begitu kami bergumam satu dengan yang lain :)

Masuk ke ruang Tata Usaha, kami disambut staf beliau dengan sangat ramah. Tapi, sayangnya, kami lupa menanyakan nama ibu itu hehehe…. Tapi dia baik, ramah sekali. Kami bertiga disuguhi minuman sesuai dengan selera. Dan ternyata kami baru menyadari bahwa selera kami ternyata hanya seputar teh manis dan air putih… ohhhh…

Jam 12:45 WIB, beliau tampak keluar dari lift. Ketika melihat kami bertiga, beliau langsung tahu, bahwa kamilah tamu yang ditunggunya untuk wawancara jam 13:00 WIB. Kami langsung disambut dengan hangat. “Halloooo… apa kabar?”, begitu sapaan pertama beliau kepada kami. Wah, kesan pertama begitu hangat, selanjutnya, pasti lebih hangat. Masuk ruang kerja beliau di sisi kanan koridor, tampak buku-buku bacaan bergeletak di meja kerjanya, televisi tidak dimatikan, dan banyak tumpukan map yang berisi lembaran-lembaran kertas yang siap untuk dieksekusi. Sepertinya kami bertiga punya pemikiran yang sama tentang sosok wanita itu, walau hanya dengan melihat ruang kerjanya saja.

Beliau berceritera banyak hal. Hampir dua jam kami begitu menikmati obrolan yang sangat berkualitas dengan beliau. Berbagai ekspresi dari raut wajah kami bertiga. Bang Seven mengangguk-angguk kagum, Kak Mery dan saya juga sebagai wanita yang duduk dengan wanita lain yang sangat dikagumi di negeri ini terharu dan bangga.

Pengalaman mewawancarai seorang tokoh wanita hebat, menjadikan motivasi yang luar biasa. Terutama kami berdua yang juga wanita.

Bagaimana wawancara eksklusif kami dengan Ibu Christina Maria Rantetana, siapa dia sesunguhnya dan kejutan-kejutan apa yang kami dapatkan, anda bisa membacanya di Buletin Ditjen Bimas Katolik edisi XXX, terbitan Januari-April 2013, yang akan terbit sekitar bulan April yang akan datang.